...
Mengucapkan " GONG XI FAT CHOI " Semoga ditahun baru ini dapat menjadi lebih baik....
Mengucapkan " GONG XI FAT CHOI " Semoga ditahun baru ini dapat menjadi lebih baik....
17 Agustus 2009
Arti sebuah kemerdekaan
Setiap saat akan terjadi perubahan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. tidak terasa kita telah memasuki bulan Agistus 2009. Bagi bangsa Indonesia bulan tersebut merupakan bulan yang keramat.
Bulan tersebut merupakan bulan kemerdekaan, kita tahu tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik tolak atau tanggal bangkitnya bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri dalam rangka masa depan yang lebih cerah.
Sudah 64 tahun bangsa Indonesia melewati masa-masa perjuangan mengisi kemerdekaan.
Selama itu mungkin banyak hal yang telah kita alami, suka dan duka dan pasang surut.
Usia 64 tahun bukan usia yang mudah, kalau diibaratkan dengan usia manusia, umur tersebut merupakan usia yang sangat dewasa, bahkan boleh dikatakan sudah tua.
Kemerdekaan mempunyai arti tersendiri baik secara fisik maupun spirituil. Pada 1500 tahun yang lalu Nabi SAW pernah mengajarkan kepada seorang sahabat, do'a yang intinya agar kita dapat menjadi orang yang "merdeka" yaitu :
"Allamumma inna na'uzubika minal hammi wal hazn
wa'nauzubika minal ajzi wal kasal
wa'nauzubika minal buhli wal jubni
wa'nauzubika min gholabatiddaini wa qohrirrijaal"
Artinya :
Ya Allah, kami berlindung kepadamu dari rasa gundah dan sedih, kami berlindung dari sikap lemah dan malas, kami berlindung dari sikap kikir dan pengecut. kami berlindung dari hutang dan tekanan orang-orang yang jahat.
Pada hari kemerdekaan ini kita perlu introspeksi diri kita, sudah sejauh mana kita telah merasa merdeka, apakah kita sudah terbebas dari 8 (Delapan) hal yang kita oleh Nabi agar dapat dihindari jauh2 :
Apakah kita sudah terbebas dari rasa "susah " dan "sedih"
Apakah kita sudah terbebas dari rasa "Lemah" dan "malas"
Apakah kita sudah terbebas dari rasa "Kikir" dan "pengecut"
Apaka kita sudah terbebas dari "hutang" dan "tekanan orang jahat"????
Selamat ulang tahun Republik Indonesia.
Dirgahayu....
Bulan tersebut merupakan bulan kemerdekaan, kita tahu tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik tolak atau tanggal bangkitnya bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri dalam rangka masa depan yang lebih cerah.
Sudah 64 tahun bangsa Indonesia melewati masa-masa perjuangan mengisi kemerdekaan.
Selama itu mungkin banyak hal yang telah kita alami, suka dan duka dan pasang surut.
Usia 64 tahun bukan usia yang mudah, kalau diibaratkan dengan usia manusia, umur tersebut merupakan usia yang sangat dewasa, bahkan boleh dikatakan sudah tua.
Kemerdekaan mempunyai arti tersendiri baik secara fisik maupun spirituil. Pada 1500 tahun yang lalu Nabi SAW pernah mengajarkan kepada seorang sahabat, do'a yang intinya agar kita dapat menjadi orang yang "merdeka" yaitu :
"Allamumma inna na'uzubika minal hammi wal hazn
wa'nauzubika minal ajzi wal kasal
wa'nauzubika minal buhli wal jubni
wa'nauzubika min gholabatiddaini wa qohrirrijaal"
Artinya :
Ya Allah, kami berlindung kepadamu dari rasa gundah dan sedih, kami berlindung dari sikap lemah dan malas, kami berlindung dari sikap kikir dan pengecut. kami berlindung dari hutang dan tekanan orang-orang yang jahat.
Pada hari kemerdekaan ini kita perlu introspeksi diri kita, sudah sejauh mana kita telah merasa merdeka, apakah kita sudah terbebas dari 8 (Delapan) hal yang kita oleh Nabi agar dapat dihindari jauh2 :
Apakah kita sudah terbebas dari rasa "susah " dan "sedih"
Apakah kita sudah terbebas dari rasa "Lemah" dan "malas"
Apakah kita sudah terbebas dari rasa "Kikir" dan "pengecut"
Apaka kita sudah terbebas dari "hutang" dan "tekanan orang jahat"????
Selamat ulang tahun Republik Indonesia.
Dirgahayu....
16 Agustus 2009
Keharmonisan
Anda boleh saja meragukan kebenaran penelitian diatas. Namun mari kita buktikan, ketika kita mencintai seseorang maka tampaklah kesempurnaannya, dia begitu anggun, cantik, baik hati, enak diajak ngobrol. Begitu menikah, ketidaksempurnaan terlihat didepan mata, menyebalkan, cerewet dan pelitnya minta ampun. Lantas bagaimana membuat semuanya terlihat indah?
Kuncinya adalah memahami kesempurnaan pasangan hidup kita terletak kepada ketidaksempurnaannya. Seperti pasangan pengantin baru yang sedang menikmati kebersamaannya mereka mendengarkan suara, kuek..kuek...
'Dengar suara itu pasti suara ayam,' kata istri.
'Bukan, itu suara bebek sayang..'jawab suaminya.
'Nggak, aku yakin itu suara ayam,' kata istrinya dengan sewot.
Suaminya dengan perkasanya menjelaskan bahwa suara ayam itu kukuruyuk...sedangkan suara bebek itu kuek..kuek.
Tak lama kemudian terdengar suara, kuek..kuek..! 'Tuh kan suara bebek,' kata suaminya. 'Bukan, itu suara ayam.' kata istrinya dengan menghentakkan kakinya dan wajahnya yang cemberut.
'Kamu ini..jelas-jelas suara bebek dibilang ayam,' suara suaminya terdengar tinggi menahan amarah. Istrinya dengan isak tangis mengatakan, tapi itu kan suara ayam..!'
Sang suami menyadari air mata istrinya yang mengalir sebuah kesalahan dirinya. Dengan ucapan yang lembut suaminya mengatakan, 'Maafkan aku sayang, memang benar itu suara ayam.' Istrinya memeluk dengan mesra suaminya dan terdengar suara 'kuek..kuek' mengiringi perjalanan cinta mereka menikmati indahnya mahligai pernikahannya.
Pesan cerita diatas, siapa sih yang peduli dengan ayam atau bebek? Yang paling penting menjaga keharmonisan didalam rumah tangga. Berapa banyak keluarga yang gagal gara-gara 'ayam atau bebek? Pernikahan jauh lebih penting daripada mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Terkadang kita merasa yakin diri kita benar namun dikemudian hari terbukti bahwa kita yang salah.
Copy paste dari :agussyafii.blogspot.com
13 Agustus 2009
Renungan Indah
Sebuah renungan yang indah By: WS Rendra.
.......
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali
oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah
derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak
popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukum
bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat
dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak
sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....
.......
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali
oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah
derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak
popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukum
bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat
dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak
sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....
Langganan:
Postingan (Atom)
